Scroll untuk baca artikel
Example 964x289
banner 160x600
banner 160x600
Example 1200x140
InternasionalKesehatan

Wabah Ebola Varian Langka Bundibugyo Picu Darurat Kesehatan Global

×

Wabah Ebola Varian Langka Bundibugyo Picu Darurat Kesehatan Global

Sebarkan artikel ini

WHO menetapkan status darurat internasional atas penyebaran Ebola Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo, dengan potensi kasus jauh lebih besar dari laporan resmi

LintasBMR.com|INTERNASIONAL – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia setelah wabah Ebola varian langka Bundibugyo terdeteksi di Republik Demokratik Kongo. Varian ini sempat tidak teridentifikasi selama berminggu-minggu karena pengujian awal difokuskan pada jenis Ebola yang lebih umum.

WHO menyebut wabah berkembang cepat dan diperkirakan berlangsung setidaknya dua bulan. Hingga pertengahan Mei 2026, tercatat 51 kasus terkonfirmasi di provinsi Ituri dan Kivu Utara, serta dua kasus di Uganda. Selain itu, terdapat 139 kematian yang diduga terkait Ebola dan hampir 600 kasus suspek.

Namun, Pusat Analisis Penyakit Menular Global MRC London memperkirakan jumlah kasus sebenarnya bisa jauh lebih besar, bahkan kemungkinan telah melampaui 1.000 kasus. Ini menjadi wabah Ebola ke-17 di Kongo, dengan tantangan berbeda karena Bundibugyo merupakan varian yang jarang muncul.

WHO menegaskan bahwa vaksin khusus Bundibugyo belum tersedia dan pengembangan diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan. Sementara itu, pemerintah Indonesia memastikan belum ada kasus Ebola di dalam negeri, namun memperketat pengawasan di bandara dan pelabuhan terhadap pelaku perjalanan dari negara terdampak.

Ebola dikenal sebagai salah satu virus paling mematikan di dunia dengan tingkat kematian tinggi. Virus ini pertama kali ditemukan pada 1976 di dekat Sungai Ebola, Kongo, dan sejak itu beberapa kali memicu wabah besar di Afrika Tengah dan Barat. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, benda terkontaminasi, hingga jenazah pasien. Kelelawar buah diyakini sebagai reservoir alami virus yang dapat menularkan ke manusia maupun primata.

Dengan risiko penularan yang tinggi, penanganan pasien dan proses pemakaman korban Ebola harus dilakukan dengan prosedur keamanan ketat. WHO mengingatkan bahwa kewaspadaan global sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran lintas negara.

Example  601x179

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 1024x170