Scroll untuk baca artikel
Example 352x300
banner 160x600
banner 160x600
Example 1200x140
InternasionalTeknologi

“Pak Zhao” Virtual: Cara Gen Z China Hadapi Nasihat Kolot dengan AI

×

“Pak Zhao” Virtual: Cara Gen Z China Hadapi Nasihat Kolot dengan AI

Sebarkan artikel ini

Anak muda ciptakan profesor digital untuk menjembatani konflik generasi dalam keluarga

LintasBMR.com|Beijing – Fenomena kecerdasan buatan (AI) di China kini merambah ke ranah keluarga. Seorang pemuda mencuri perhatian publik setelah menciptakan sosok profesor virtual bernama Pak Zhao sebagai strategi menghadapi nasihat konservatif dari orangtuanya. Alih-alih berdebat langsung, ia memilih menghadirkan figur digital paruh baya berwibawa yang tampil layaknya akademisi senior.

Akun media sosial bertajuk “Lao Zhao jiang dao li” atau “Pak Zhao bicara masuk akal” segera viral. Cara unik ini dianggap mencerminkan benturan generasi muda dengan pola pikir lama yang masih kuat di masyarakat China.

Pembuat akun mengaku frustrasi karena pendapat pribadinya sering dianggap remeh. Ia menilai nasihat dari sosok tua, pintar, dan berpengalaman lebih mudah dipercaya oleh orangtuanya. Untuk itu, ia menciptakan Pak Zhao dengan latar belakang fiktif sebagai pensiunan profesor asal Chongqing, berpengalaman lebih dari 30 tahun meneliti hubungan keluarga, serta disebut pernah menempuh pendidikan di Singapura.

Dengan dukungan teknologi AI generatif, Pak Zhao tampil dalam video layaknya dosen atau motivator profesional. Dalam waktu singkat, akun ini menerbitkan 18 artikel yang membahas isu keluarga dan tekanan sosial yang akrab bagi generasi muda.

Fenomena ini juga menyinggung istilah populer di China, “toxic chicken soup” – nasihat yang terdengar bijak namun sarat tekanan sosial dan doktrin lama. Lewat Pak Zhao, sang kreator membalik keadaan: jika orangtua lebih percaya profesor, maka ia menghadirkan profesor versinya sendiri.

Topik yang diangkat mencakup tekanan menikah muda, tuntutan pekerjaan mapan, hingga pandangan tradisional bahwa perempuan harus bisa memasak atau menikah di usia tertentu. Salah satu isu yang paling banyak dibahas adalah anggapan bahwa menjadi pegawai negeri merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Karena dibawakan oleh figur profesor yang tampak kredibel, pesan-pesan Pak Zhao lebih mudah diterima kalangan orangtua dibanding jika disampaikan langsung oleh anak mereka. Menariknya, komunitas internet ikut memperkuat citra akademisi ini dengan komentar palsu, foto seminar fiktif, hingga testimoni seolah pernah menghadiri kuliah Pak Zhao.

Kolaborasi kreatif ini membuat banyak pengguna percaya bahwa Pak Zhao benar-benar sosok nyata.

Fenomena Pak Zhao memicu diskusi luas di media sosial China. Banyak yang menilai strategi ini menunjukkan bagaimana generasi muda mencari cara baru menghadapi tekanan sosial tanpa konfrontasi langsung. AI bukan hanya dipakai untuk pekerjaan atau hiburan, tetapi juga menjadi alat komunikasi sosial yang mampu memengaruhi cara orang memahami pesan.

Meski terdengar lucu dan kreatif, kasus ini sekaligus menggambarkan adanya jarak pemahaman antara generasi muda dan orangtua di era digital. Pak Zhao menjadi simbol bagaimana teknologi bisa menjembatani konflik generasi dengan cara yang lebih halus namun efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 720x213