LintasBMR.com|JAKARTA — Suasana tegang mewarnai aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPR RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026). Massa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) terlibat adu argumen dengan aparat kepolisian setelah langkah mereka tertahan barikade saat hendak bergeser menuju Bundaran HI.
Mahasiswa mempertanyakan dasar hukum polisi yang menahan pergerakan mereka. “Apa dasarnya menahan kami? Aspirasi kami tidak hanya ditujukan ke DPR,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa.
Menanggapi hal itu, Kepala Bagian Perencanaan Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Adri Desas Furyanto, menegaskan bahwa aksi di Bundaran HI tidak diizinkan. “Bundaran HI itu jantung perekonomian. Kami punya kewenangan Harkamtibmas, maka kami sekat,” tegasnya.
Ketegangan meningkat ketika Adri menantang massa jika tetap ingin memaksakan kehendak menembus barikade. Mahasiswa akhirnya turun dari kendaraan, berunding, lalu memilih berjalan kaki meninggalkan lokasi DPR.
Aspirasi Mahasiswa: Kritik Ekonomi dan Kebijakan Pemerintah
BEM UI melalui akun Instagram @bemui_official menyuarakan kritik tajam terhadap kondisi ekonomi nasional. Mereka menilai pemerintah gagal menyejahterakan rakyat, dengan kebijakan fiskal yang bocor dan independensi Bank Indonesia yang direnggut.
“Belakangan, ekonomi Indonesia runtuh. Namun, pemerintah justru memperkeruh keadaan,” tulis BEM UI.
Sementara itu, BEM FHUI menyoroti depresiasi nilai rupiah yang semakin menekan kehidupan masyarakat.
Pengamanan Humanis: 6.088 Personel Gabungan Dikerahkan
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, memastikan tidak ada personel TNI maupun Polri yang membawa senjata api dalam pengamanan aksi. Arahan Kapolda Metro Jaya, Komjen Pol Asep Edi Suheri, menekankan agar aparat tetap sabar, humanis, dan tidak terpancing provokasi.
Sebanyak 6.088 personel gabungan disiagakan di sejumlah titik, termasuk DPR/MPR RI, Bundaran HI, Patung Kuda, dan Cikini Raya. Mereka terdiri dari 500 personel TNI, 1.000 Brimob, 200 Sabhara, 3.802 Polda Metro Jaya, dan 586 Polres Metro Jakarta Pusat.
“Kami mengingatkan mahasiswa agar menyampaikan aspirasi secara tertib serta tidak memberi ruang bagi pihak yang ingin memprovokasi jalannya aksi,” ujar Budi.














