Scroll untuk baca artikel
Example 964x289
banner 160x600
banner 160x600
Example 1200x140
BeritaBoltim

Ketika Api Lebih Cepat dari Pemadam: Tragedi Kebakaran Boltim yang Merenggut Nyawa

×

Ketika Api Lebih Cepat dari Pemadam: Tragedi Kebakaran Boltim yang Merenggut Nyawa

Sebarkan artikel ini

Armada pemadam tak layak pakai, warga hanya bisa berharap bantuan dari daerah tetangga.

Foto Edit AI

LintasBMR.com|BOLTIM – Kebakaran hebat yang melanda rumah warga di Desa Bongkudai, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, menyebabkan korban jiwa. Namun di balik duka mendalam itu, tersingkap fakta yang kian mengkhawatirkan: kendaraan pemadam kebakaran di Boltim tidak dalam kondisi layak, sehingga setiap kali api berkobar, warga hanya bisa berharap bantuan dari daerah tetangga.

Keterlambatan armada pemadam bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan masalah struktural yang sudah lama menghantui. Dalam setiap insiden, menit-menit krusial terbuang sia-sia karena mobil pemadam di Boltim tak mampu bergerak cepat. Akibatnya, api lebih dulu melahap rumah dan nyawa sebelum bantuan tiba.

Uyun K. Pangalima, tokoh masyarakat, menegaskan bahwa tragedi ini adalah alarm keras yang tak boleh lagi diabaikan. “Hidran air bersih bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan vital untuk keselamatan warga,” tegasnya.

Ia mendesak perusahaan besar yang beroperasi di Boltim, seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT Arafura Surya Alam (ASA), agar memperluas program CSR mereka ke arah pembangunan jaringan hidran berbasis komunitas. Selama ini, program CSR kedua perusahaan lebih banyak menyentuh sektor pendidikan dan kesehatan. Namun, menurut Uyun, akses air bersih yang stabil dan fasilitas hidran akan menjadi solusi taktis yang langsung menyentuh aspek kehidupan paling mendasar masyarakat.

“Jika jaringan hidran air dibangun, maka warga tidak hanya mendapat pasokan air bersih yang merata saat musim kemarau, tetapi juga memiliki benteng pertahanan dini terhadap kebakaran. Ini adalah bentuk nyata komitmen terhadap aspek Environment, Social, and Governance (ESG),” tambahnya.

Masyarakat berharap tragedi ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan korporasi untuk bersinergi membangun infrastruktur dasar yang berkelanjutan. Tanpa langkah konkret, setiap rumah di Boltim tetap berada dalam bayang-bayang api yang bisa datang kapan saja, sementara armada pemadam yang tak layak hanya menjadi saksi bisu.

Kebakaran yang merenggut nyawa ini bukan sekadar peristiwa tragis, melainkan peringatan keras bahwa waktu sudah habis untuk menunda. Selama kendaraan pemadam tak layak pakai dan hidran air bersih belum tersedia, setiap kobaran api berpotensi menjadi tragedi berikutnya.

Example  601x179

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 1024x170